--> DirBisnis: resesi

Tutorial | Bisnis | Finance

Showing posts with label resesi. Show all posts
Showing posts with label resesi. Show all posts

Wednesday, September 23, 2020

Tips Hadapi Resesi Hingga Selebgram Promosi Penerbangan Aman

Tips Hadapi Resesi Hingga Selebgram Promosi Penerbangan Aman

Tips Hadapi Resesi Hingga Selebgram Promosi Penerbangan Aman

Berita terpopuler ekonomi dan bisnis sepanjang hari Rabu, 23 September 2020, dimulai dari 7 hal penting yang harus disiapkan menghadapi masa resesi serta saran dari ekonom untuk mendahulukan menabung atau investasi.

Disamping itu ada juga soal permintaan Menteri Perhubungan agar selebgram pilot dan pramugari promosikan penerbangan aman. Ada pula berita Menteri PUPR yang mengajukan tambahan anggaran Rp 1,5 triliun sebagai ganti rugi lumpur Sidoarjo hingga Sri Mulyani yang mengakui kondisi APBN berat karena lonjakan pembiayaan utang.

Kelima topik tersebut paling banyak menyedot perhatian pembaca di kanal Bisnis. Berikut selengkapnya lima berita bisnis yang trending tersebut:

1. Resesi Kian Dekat, Simak 7 Hal Penting yang Harus Anda Siapkan

Proyeksiresesi yang akan terjadi semakin terang saat Menteri KeuanganSri Mulyani Indrawati menyampaikan revisi prediksi pemerintah teranyar tentang kondisi perekonomian nasional. Bila sebelumnya pemerintah masih optimistis, namun kemarin bendahara umum negara tersebut menyebutkan perkiraan pemerintah soal pertumbuhan ekonomi bakal minus 2,9 persen di kuartal ketiga tahun ini.

Artinya dalam dua kuartal berturut-turut pertumbuhan ekonomi di bawah 0 persen dan secara teknikal perekonomian sudah memasuki resesi. Namun resesi tak hanya dialami Indonesia, sejumlah negara bahkan sudah menghadapinya beberapa waktu sebelum ini.

Lalu, apa saja yang harus dilakukan khususnya untuk memastikan keuangan Anda dalam kondisi baik bahkan jika ekonomi goyah? Forbes mencatat sedikitnya ada tujuh langkah yang bisa disiapkan, yakni:

Simak selengkapnya tentang Sri Mulyani di sini.

2. Menhub Minta Selebgram Pilot dan Pramugari Promosikan Penerbangan Aman

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi meminta pilot dan pramugari yang memiliki banyak pengikut (selebgram) untuk mempromosikan keamanan penerbangan di media sosial masing-masing. Sebab, kata dia, saat ini masyarakat yang masih ragu-ragu melakukan perjalanan dengan angkutan udara karena takut tertular Covid-19.

“Sekarang ini zamannya media sosial. Petugas melakukanrapid testyang melakukan tindakan tidak baik dalam waktu beberapa jam sudah tersebar. Itu memalukan. Sebaliknya hal-hal yang baik juga perlu di-share (oleh) teman-teman pilot, pramugari, yang followers-nya banyak,” ujar Budi Karya dalam webinar, Rabu, 23 September 2020.

Budi Karya menjelaskan, nilai-nilai positif yang dapat dipromosikan ialah ketatnyaprotokol kesehatanbaik di bandara maupun di dalam pesawat. Disamping itu, ia menyebut keramahan petugas juga perlu dibagikan.

Baca selengkapnya mengenai penerbangan di sini.

3. Resesi di Depan Mata, Dahulukan Menabung atau Investasi?

Sejumlah ekonom menyarankan masyarakat untuk mengelola keuangan pribadi dan keuangan secara konservatif dan tetap memperhatikan profil risiko Setiap individu.

Ketua Bidang Kajian dan Pengembangan Perbanas Aviliani, misalnya, mengatakan pendapatan masyarakat yang turun selama pandemi butuh sistem yang konservatif. "Tahun ini memang sangat berat. Secara general pola pengaturan keuangan yang konservatif dan lebih teliti pada tahun ini sangat diperlukan," katanya, Rabu, 23 September 2020.

Ia menyarankan kelompok masyarakat yang sangat tertekan yakni masyarakat kelas menengah bawah karena pendapatannya bisa turun hingga 2 persen, harus lebih teliti dalam menyusun semua anggaran dan lebih fokus hanya pada belanja primer. "Semua jenis cicilan berat khususnya kredit pemilikan rumah, harus secara proaktif meminta pihak perbankan untuk restrukturisasi," ucap Aviliani.

Simak selengkapnya tentang investasi di sini.

4. Menteri Basuki Ajukan Rp 1,5 T untuk Ganti Rugi Lumpur Sidoarjo

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan RakyatBasuki Hadimuljonomengajukan tambahan anggaran Rp 1,5 triliun kepada Kementerian Keuangan untuk membayar ganti rugi semburan lumpur Sidoarjo, atau dikenal dengan lumpur Lapindo, di Jawa Timur.

"Kami sudah berkirim surat kepada Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi sebagai Menko yang membawahi Kementerian PUPR dan Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan untuk mohon tambahananggaran," kata Basuki dalam rapat dengan Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat, Rabu, 23 September 2020.

Hal itu, menurut Basuki, sesuai yang diperintahkan dalam rapat kerja komisi V pada 15 September untuk ganti rugi korban lumpur Lapindo. "Ini suratnya sedang diambil oleh Pak Dirjen Sumber Daya Air. Jadi kami sudah tindaklanjuti apa yang diperintahkan pada kesimpulan tersebut," ujarnya.

Sebelumnya, Kementerian PUPR telah mengalokasikan Rp 239,7 miliar untuk pekerjaan penanganan dampak semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur, tahun ini. Kementerian PUPR berjanji tak mengurangi perhatiannya terhadap bencana yang telah terjadi sejak 29 Mei 2006 tersebut.

Baca selengkapnya mengenai lumpur Lapindo di sini.

5. Pembiayaan Utang Melonjak, Sri Mulyani: APBN Kita Sangat Berat

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan secara keseluruhan realisasi pembiayaan anggaran hingga Agustus 2020 sudah mencapai Rp 667,81 triliun. Realisasi pembiayaan anggaran terutama bersumber dari pembiayaan utang.

Pembiayaan utang hingga akhir Agustus 2020 telah mencapai Rp 693,6 triliun atau 56,8 persen dari target Rp 1.220,5 triliun untuk keseluruhan tahun. "APBN kita luar biasa berat dan ini terlihat dari sisi pembiayaan," ujar Sri Mulyani dalam konferensi video, Selasa, 22 September 2020.

Pembiayaan utang tersebut dilakukan untuk menambal defisit APBN 2020 yang sudah lebih dari Rp 500 triliun. Hingga saat ini, pemerintah sudah menerbitkan Surat Berharga Negara secara neto sebesar Rp 671,6 triliun dan menarik pinjaman Rp 22 triliun. "Ini kenaikan luar biasa untuk SBN kita yaitu 131 persen dibanding tahun lalu yang hanya Rp 290,7 triliun," kata Sri Mulyani.

Tuesday, September 3, 2019

Saat Sekarang ini Ekonomi Dunia Dibayangi Resesi

Saat Sekarang ini Ekonomi Dunia Dibayangi Resesi


Saat Sekarang ini Ekonomi Dunia Dibayangi Resesi

Ancaman resesi ekonomi global saat ini menghantui seluruh dunia. Sejumlah ahli ekonomi dan investasi ada yang menganggap resesi akan benar-benar terjadi, walaupun ada yang tak sependapat dengan itu.

Ekonom Raden Pardede pun menyoroti perdebatan yang terjadi menyoal bayang-bayang resesi. Menurutnya ada beberapa faktor yang menimbulkan kekhawatiran bahwa resesi akan terjadi.
"Satu, siklus ekspansi ekonomi Amerika sekarang ini sudah lebih dari 10 tahun, yaitu ekonomi Amerika mengalami pertumbuhan secara terus menerus sejak Juli tahun 2009," kata dia dalam catatannya yang diterima.

Itu menurutnya siklus bisnis terpanjang dalam sejarah perekonomian AS, di mana biasanya sesudah ekspansi akan ada kontraksi. Siklus ini masuk dalam persepsi dan pertimbangan para ahli dan investor.

"Kedua, yield curve, slope imbal balik investasi menjadi negatif, yaitu bunga investasi jangka panjang di bond pemerintah lebih rendah dari jangka pendek. Mengindikasikan pesimisme terhadap ekonomi jangka menengah panjang, juga pertanda resesi kedepan," jelasnya.
Sebanyak dua faktor itu yang menjadi landasan para ahli dan investor untuk mengindikasikan resesi akan terjadi.

"Sementara data-data ekonomi di Amerika secara umum masih cukup solid, tingkat pengangguran masih rendah, harga rumah naik. Data ini tidak mendukung adanya resesi. Namun tingkat kecemasan dan ketidakpastian naik," jelasnya.

Investor global, lanjut dia, tentunya tidak hanya mengamati ekonomi AS, meskipun ekonomi Amerika paling besar yang mungkin membawa ekonomi dunia ke resesi, keadaan ekonominya masih cukup baik.

Ekonomi di luar AS yang sekarang sedang mengalami slow down, termasuk Uni Eropa, China, Jepang/Korea, dan sebagainya pun menjadi perhatian, karena negara-negara tersebut mengalami beberapa hal.

"Profit menurun, volume perdagangan menurun, index pengangkutan kapal turun, harga tembaga turun, semua menggambarkan slow down. Kecemasan karena trade war dan currency war, di tengah geopolitik yang tidak kondusif yang di-trigger oleh (Presiden AS) Trump" ujarnya.
Dia juga menilai, harga emas yang mengalami kenaikan merupakan tanda-tanda orang mencari tempat perlindungan.

"Hal ini membuat economic policy uncertainty index (EPU index) mencapai level tertinggi," sebutnya.

Terlepas dari perdebatan yang ada, dia melihat resesi global belum, namun kecemasan naik.

"Apakah akan terjadi resesi benaran. Belum pasti, namun keadaan ekonomi Amerika akan jadi kunci. Sangat tergantung juga pada kebijakan pemerintah Trump tentang trade dan currency war serta kebijakan the Fed," jelasnya.

Para investor menurut dia akan terus punya skenario pikiran dan memcoba menebak sendiri-sendiri. Hal ini membuat naik turunnya pasar modal.

"Apapun itu, buat kita paling penting selalu waspada, siapkan payung sebelum hujan. Hujan akan datang, apakah hanya gerimis atau badai kita belum tahu kapan. Tapi bersiap selalu lebih baik," tambahnya.